Senin, 26 Agustus 2019

Wisudawan

"Terimakasih sudah tersenyum hari ini"

saat ini, rasa puasku menjadi lebih sederhana
hanya dengan melihatmu tersenyum lega
atas seluruh beban yang lepas dari pundak
yang membuatmu dapat sedikit bernapas lebih tenang

iya, akupun melihat
jas itu sempurna padamu
memang pas dan sudah waktunya kau memakainya
sudah saatnya, sudah semakin dekat

aku sudah benar tahu, tidak ada yang abadi kan ?
bahkan kebahagiaan macam inipun
hanya akan menjadi kenangan
sesaat

satu episode lagi
satu lagi, kan ?
satu sesi yang sedang kita tunggu bersama
pelepasanmu

tidak ada kado, tidak jadi memberikan apapun
Allah cegah tangan ini untuk semakin banyak mengukir hal yang salah
jadi hanya doa
kado terbaik dariku

selamat wisuda, wisudawan.
terimakasih sudah berbagi senyum hari itu


24/08/2019



kakak penjaga dan coach terbaik di kampus sudah wisuda. :) selamat mengudara..



tidak jadi minta maaf, aku tahu kakak sudah memaafkan. tapi aku pasti minta maaf kak, insyaAllah. dan kukatakan sebaik baik harapan dan doa, semoga kalian baik baik saja dan selalu dalam lindungan Allah, dimanapun, kapanpun. Syuro lagi ya di surga :D

waktuku hanya 24 jam dari sekarang, hanya itu. sedekat itu kan ? tidak ada yang jauh, tidak perlu memilikirkan yang jauh-jauh :)

Senin, 19 Agustus 2019

Di tebing batu





aku tidak akan menganggapnya spesial, karena aku tidak jelas tahu apa isi hatinya
aku hanya menerkan dan seakan menemukan namaku disana, hanya karena caranya memperlakukanku. tidak benar-benar menyatakan. meskipun jelas beda perlakuannya padaku.

Di tebing itu aku tahu, walau hanya perasaan saja, dia melihatku dari belakang
aku.. jelas. jelas menunggunya hadir disampingku
dan ternyata lebih mudah jika dia tidak hadir
jika dia mengurungkan niatnya untuk lebih dekat
lebih mudah untuk melepaskan, lebih mudah menerima dan membuat otakku berpikir bahwa aku memang hanya berharap
bukan seperti ini, dalam keabu abuan, dan memaksa hati ini untuk merasa hal itu biasa saja baginya

membuat moment itu terasa biasa saja
membuat bernapas saja sesulit itu rasanya
membuat diriku merasa perlu mengatur irama jantung
membuatku hanya bisa memejamkan mata, menikmati semilir angin
mendengar bising yang sebenarnya sunyi diantara kami
memandang angan yang jauh tapi sosoknya sungguh disebelahku
merasakan luasnya panorama didepan mata, tegaknya gunung-gunung berjajar, waduk jatiluhur terhampar dengan mentari pagi terproyeksi dipermukaannya, dan perahu berjejer sangat kecil

aku sangat kelu, merasa tidak perlu membuka pembicaraan
tapi aku tahu, dia selalu mencari waktu denganku
mungkin hanya untuk berada lebih dekat saja, tidak lebih
untuk saat ini, memang begitu kan?

aku tidak perlu bertanya, untuk apa dia mendekat
untuk apa dia duduk di sebelahku diatas tebing batu itu
untuk melihat matahari ? untuk berbicara denganku ? untuk memotretku ? 
aku tidak ingin menebak nebak

saat itu dia datang dan meminta seseorang untuk memotret kami dari belakang
bukankah itu juga yang ingin kulakukan ?
tapi kenapa dia seberani itu 
apakah dia ingin mengatakan padaku untuk berhenti menyimpan sesuatu untuknya?

untuk apa dia menyimpan fotoku dari belakang ? apa itu hal biasa baginya ?
atau dia tau isi pikiranku ?
untuk apa dia meminta foto ?
dan mengapa aku iyakan untuk merekam moment itu lebih jelas lagi

saat itu, mungkin orang-orang tahu, bahwa ada sesuatu yang lain antara aku dengannya
yasudah, yasudah

Menunggu waktu


Aku sudah tahu waktunya kapan dan berapa lama lagi detik yang tersisa
aku juga tahu, aku tidak akan sanggup menghadapinya. dan berpura-pura tidak akan terjadi apa apa adalah suatu kesalahan, hanya akan memperbesar rasa dan semakin berat melepaskan. aku tahu itu, aku tidak akan berpura-pura kuat.

akhirnya aku menerima, dan menjalani waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya
aku bahkan sempat memposisikan diri seakan memang sudah waktunya, sudah pergi, sudah jauh, tidak ada yang bersisa. tapi memang masih ada sosoknya yang terlihat, dan itu kembali mengingatkanku bahwa dia memang belum pergi.

aku coba saja untuk menikmati waktu yang tersisa
merekam gurat wajah yang malu sekali kulihat
menyimpan suara dan caranya memaknai hidup
membiarkan moment disaat jarak diantara kami terlalu dekat

astaghfirullah, Ya Allah aku benar-benar takut
aku sama sekali bukan takut kehilangan dia
tapi aku takut caraku salah padanya
apa yang terjadi atau akan terjadi, pernah salah dengannya

Ya Allah, jika nanti memang bukan dengannya, semoga Engkau maafkan aku atas segala kesalahanku dengannya.. ya Allah, aku takut Engkau kecewa padaku
hal keliru yang kulakukan sudah tak terhitung dan itu membekas, ya Allah.. ternyata tidak semudah itu mengendalikan rasa ini.. mengapa aku tak hiraukan peringatan dari-Mu..

ya Allah, apa yang telah dititipkan adaku ini indah dan luar biasa
maafkan aku jika aku slaah dalam memahaminya
maafkan aku jika aku tidak sedewasa itu mengelolanya
maakan aku jika aku salah dan justru mengambil manfaat yang sesaat darinya
maafkan aku jika justru aku mengotorinya
Astaghfirullah Ya Allah maafkan aku

mungkin saja, engan dititipkannya rasa ini, Engkau memintaku untuk belajar, belajar menyimpan rasa dengan tulus. tanpa perlu balasan apapun
belajar menahan, dan menolak hal yang lebih
bukan menerimanya dan menikmati yang salah ini

bukankah dia tidak perlu tau seberapa besar cintamu padanya ?
lagi pula, dirimu sendiri tahukah seberapa besarnya ?
semuanya tidak akan menjadi luar biasa jika dinyatakan sekarang, tidak ada yang spesial
aku tahu, kemungkinannya akan sangat kecil
akan ada dunia baru nantinya
lingkungan baru
dan orang baru dengan peran baru
dan mungkin dia akan tergantikan
tapi bukankah level itu yang tinggi ? level melepaskan..

aku sudah belajar banyak darinya, banyak sekali. bakhan beberapa kali melukainya, stelah merepotinya, mengganggunya, membingungkannya.

Allah akan memberikan tempat terbaik untuk melabuhkan semua rasa ini.

jadi, bersabarlah..



Apakah akan sama rasanya, ketika kepergian begitu nyata didepan mata ? Sedangkan hal yg dilepas nyatanya tidak sedalam itu digenggam
Dalam keabu abuan ini, masih saja aku kelu memaknainya
Membacanya sebagai anugrah ataukah teguran yang menyakitkan
Aku mau diam saja, aku tak mau salah melangkah
Aku tau akan lebih menyakitkan jika terlalu dalam dan jauh salahnya

Siap Berangkat (?) Yap!

Jadi sucii... siap tingkat 4 ?

Hehehe.. tau gak sih skrg ku lagi helaing time yeaaayyy !!!!!!!!!!!

Rasanya senang sekaliiii, setelah ketemu pak sukim tentang pendanaan uang qurban, entah kenapa mood ku naik gitu, aku ngerasa senengg banget. Apalai tadi pak febri sempet senyum huhuhuhu yaampun rasanya kek speechless ganteng bet astaghfirullah

Rasanya kaya, clear satu. Alhamdulillah. Okehhhh

Dan tadi pagi tu aku memulai pagi dengan.. nikmat-Mu Ya Allah.. alhamdulillah... sempat sholat tahajudd... karna malamnya aku berdoa sama Alah buat dibangunin.. dan alhamdulillah bangunnn wuooooo
Tapi belum baca quran udah tidur lagi heuheuehue. Oke besok kita bangun pagi lagi dan baca quran okay ? :)

Oke abis itu nisya nge chat. Chta yang awalnya aku jauhin, aku ga balas balas, tapi aku merasa perlu. Perlu untuk meluruska, lebih tepatnya menceritakan sih. Jadi tadi aku telfonan, ngalor ngidul kemana mana tapi beralur sih, dan abis itu yaaa lega, seperti biasa.

Aku ceritakan.. tentang aku yang absurd dipekan pekan liburan, naik tuturn ngga jelas. Aku yang bener-bener ngga bisa mengendalikan diri diwaktu liburan, diwaktu danusan. Aku yang ngga hanya sakit jasmani tapi ruhani juga, aku yang seperti itulahhh. Lalu aku yang tidak care lagi, aku yang mengasingkan diri ke jawa timur, ke temnat tempat yang mungkin saja bisa menjadi pelepas keluh dan penat. Hah iya, nyatanya pendakian itu tidak begitu banyak mempengaruhi kondisiku, justru ditenda aku meringkih tidak enak badan. Semenyedihkan itukah ? tidak sih sebenarnya

The, sekarang aku tahu. Sejauh apapun kamu berlari, tetap tidak akan kau temukan apa yang kau cari. Temat yang kau cari adalah tempat utama yang kau jauhi. Kau cari dimana hatimu ? dikeramaian jakarta ? dikesunyian puncak gunung ? sini kuberitahu, itu tidak berarti. Temukanlah hatimu disujud-sujud malammu, dilantunan suaramu sendiri saat kau baca Al Quran, disaat kau renungi seluruh dosa-dosamu. Nah itu. Temukanlah dirimu. Kalau tetap tidak ketemu, mungkin bisa seperti caraku, meminta bantuan orang lain untuk menemukannya. Hehe

Oke then, aku merasa terlahir kembali setelah banyak hal terlewati. Yes, aku mensyukurinya. Benar-bnear menikmati liburan kali ini. Aku memang menemukan apa yang kucari, apa yang kuperlukan, apa yang harus uselesaikan, ya.. diriku sendiri. Aku kembali menemukan diriku yang ceria, diriku yang semnagta, diriku yang percaya diri dan diriku yang berusaha. Aku sekarang sudah tau bagaimana caranya tersenyum, serius! Sebelumnya aku hampir hampir tidak bisa menarik kedua otot pipiku ini, seakan akan default sehari-hariku yaa seperti ini, haha, aneh ya

Bisa bisanya sebuah amanah, sebuah keadaaan, selama waktu yang bergulir, meruntuhkan keceriaan seorang suci seperti ini. Tapi.. itu bagus. Sedikit banyak aku belajar menjadi dewasa. Aku juga cukup kewalahan dengan suci yang over, suci yang tidak punya ruang utnuk dirinya sendiri, suci yang tidak bisa mengandle pikiran dan perkataannya, suci yang terlalu banyak menggerus diri dan sudah tidak ada apa apa lagi yang tersimpan.. hua, salah, kan ? aku juga rindu suci yang dulu, suci yang kuat, kuat memendam, kuat menahan, kuat menyimpan dan mengendalikan perasaan. Suci yang tangguh dan kebal, pada banyak hal, pada rasa cinta yang belum saatnya, pada perkataan menyakitkan dan menyinggung, pada rasa gagal dan hancur. Oh ayolah, suciiii aku kangen suci yang duluuu.. ayo kembalilahh menjadi suci yangd ulu, suci yang ceria, suci yang maniiiiisss, suci yang cantik dan bersemangat. Ngga apa, ngga harus pintar, tapi harus berusaha pintar!!

Kita akan terus berpacu, karena waktu kita hanya 24 jam. Besok adalah anugrah dan kesempatan baru. Selesaikan yang bisa dilakukan hari ini. Hari kemarin tidak usah dipikirkan. Oke suci, kamu kan memantul dengan lengting sempurna. Memantul dnegan ceat dan tidak perlu memikirkan banyak hal secara berlebihan, oke ?

Aku senang sekali bisa berusaha dan maksimal, dan lebih memuaskan lagi apabila hasil usahaku itu bisa membuat orang lain tersenyum bangga. Dan modalnya adalah sungguh-sungguh, kontinu, yakin, waktu, tenaga. Oke aku akan melakukannya lagi, untuk kompre, skripsi, kehidupan tingkat 4, insyaAllah

Aku tidak akan meninggalkan adk, sungguh, kebodohan macam apa yang kamu pilih dengan meinggalkan salah satu sumber kekuatan yang Allah berikan ?
Yasudah kalau mereka seperti itu, memang semua ada saatnya, semua ada waktunya, semua butuh ruang dan waktu. Jadi, akupun juga bisa memanfaatkan ruang dan waktuku.. aku yakin kita bisa. Dan tetap pada porsinya. Jadi sedikit masa bodoh itu tidak mengapa ci :)
Ambil yang kamu butuhkan, berikan yang bisa kamu berikan sesuai porsimu, sudah :)

Dan entang cinta.... wwkwkwk. Film wedding agreement dengan perpaduan kejadian yang pas, menonoton bersama fenny. Membuatku merasa aku sudah harus menyikapi semua ini dengan dewasa. Sudah saatnya. Ini bukan cinta monyet kejar kejaran lagi. Dan mengagumi diam-diam dengan stalk dsb hanyalah sebuah investasi yang merugikan. Sudahlah ci. Sekarang, fokusku adalah menjadi sebaik baik diri. Menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dari hari harissebelumnya. Tidak mengapa, sungguh tidak mengapa kalau aku masih belum paham mata kuliah, atau aku masih kurang lancar tilawah quran, atau aku yang stuck di juz 29. oke, gapapa. Itu semua gapapa. Asal mental kamu kuat untuk memulainya lagi dan terus berjalan. Keep moving on. Jangan move back. Dan ketika kamu down, kamu harus kembali, kamu harus menepi. Jangan dipaksakan untuk terus melakukannya, dan jangan dibiarkan menepi pada temoat yang salah. Harus ke Allah.

Jadi, apapun yang kamu lakukan kini, sesedikit apapun progresnya, bersyukurlah.. alhamdulillah. Yang penting kamu tetap berjalan. Karena hidupmu kau sendiri yang menjalaninya, tanpa paksaan dan kontribusi dari orang lain. Aku ngga harus detik ini nambah havalan, ngga harus detik ini paham matkul yang susah, ngga harus detik ini selesai proposal atau bab-bab di skripsi, ngga harus ci, ngga ada satu orang pun yang erhak maksa kamu, semua harus kamu mulai dari hati, hati kamu yang kamu paksakan, bukan otak. Dia bakal cape sendiri aklo dipaksa, tapi hati, tinggal kamu kasih amunisi, dia bakal berjalan lebih kuat dan lebih tangguh dari yang kamu kira. Jadi sekarang, ready ??

Oh ya satu lagi, tingkat 4 pasti sedkit banyak akan ada satu dua gangguan, meskipun aku udah mengikrarkan diri untuk fokus, tapi mungkin ngga berjalan mulus, aku realistis. Aku tau, masih ada celah yang kubuka, dan yaudah. Seperlunya. Kamu tahu batasnya ci, bagian mana yang perlu dicukupkan, mana yang perlu dilakukan. So far so good, yang itu juga harus kamu jaga. Inget, kamu harus selesai sama diri sendiri dulu, baru siap bahas bahas kaya perasaan gitu. Ya ? insyaAllah bisa suci mah..

Tingkat 4, tingkat baru, teman baru. Gaad satupun yang tau IP terakhirku yg rendah itu. Gaada satupun yang tau aku ga beres akademiknya
Gaada satupun yang tau aku suka tidur dan ngantukan di kelas
Gaada satupun yang tau kegiatan aku apa
Fokusku apa taun ini
Apa yang aku dalami
Sejauh mana aku melangkah
Gaada yang tau
Maka dari itu, gaakan ada yang mengira, kalau aku melesat begitu jauh
Jauh sekali.
Fokus
Fokus
Melesat ci, melesat secepat yang kamu bisa.

Selesaikan matkul dipekan itu juga, bikin rangkumannya jauh jauh hari. Matkul harus selesai. Kompre harus selesai. Skripsi harus jalan tiap pekan. insyaAllah, Allah bantu.

Senin, 05 Agustus 2019

Sedang sakit

Kukira tidak akan sampai pada titik ini, titik disaat aku menonjolkan rasa egoisku, berpikir realistis dan mengenyampingkan seluruh hal yang mengambil waktuku.
Kupikir aku akan selamanya seperti ini, terus menerus menyediakan diri dan melakukan hal yang orang sukai dariku, hanya agar aku merasa berguna dan bermanfaat untuk mereka.
Kurasa sebenarnya semuanya memang perlu ada batasnya, meskipun suci yang sebelumnya tidak menyadarinya dahulu, tapi jalan takdir tahu yang terbaik. Dengan dibawanya aku ke jakarta, aku tahu aku harus menjauh dari dunia dakwah yang meminta waktuku lebih dari yang aku miliki. Tidak mengapa bagiku, tapi nyatanya memang bukan sebanyak itu porsiku.
Aku dibuat terhenti oleh jarak dan batas, agar aku mulai fokus pada diriku sendiri. Jauh dari hiruk pikuk rutinitas yang biasa kulakukan, karena Allah tahu aku tak bisa berhenti melakukannya.
Dan aku sadari semua itu. Mungkin saja jika tiga tahun yang lalu aku masih di rumah, aku bisa saja sangat lalai pada tujuan utamaku dan lebih banyak menghabiskan waktu pada sesuatu yang kuanggap benar. Nyatanya hal itu hanya pelarian atas rasa malas yang menantangku. Itu bukan kewajiban dakwah. Bahkan dakwah memintaku untuk bersikap seimbang. aku harus selesai dengan diriku sendiri.
Aku tidak ingin menyakiti lebih banyak hati lagi, tidak ingin menggoreskan luka lebih dalam lagi. Memang benar amanah dan dapat diandalkan adalah sifat yang baik, tapi aku tidak akan memilih untuk menjadi anak yang tidak amanah.
Baru menyadari tugas utama disini ? yap, Alhamdulillah. Setidaknya sudah menyadari, meskipun cukup sedikit terlambat.
Aku tahu, jelas aku tahu. Semuanya akan baik-baik saja tanpaku. Toh, jika aku tidak hadir dalam posisi itu, akan ada yang menggantikan nantinya. Lalu semua akan berjalan seperti biasa, atau bahkan akan ada sosok baru yang muncul ke permukaan.
Aku tahu, jelas tahu. Bahwa aku bukanlah satu satunya orang yang bertanggungjawab atas semua ini. Aku tidak perlu menggerakkan banyak orang untuk memajukan sesuatu yang hanya ada dalam kepalaku. Aku tidak bertanggungjawab atas itu. Walaupun sebenarnya memang ada keterlibatanku disana.
Aku tidak harus memperjuangkan sesuatu yang orang lain pun tidak mengerti apa yang tengah kuperjuangkan.
Tidak perlu banyak memikirkan, hanya cukup dijalani. Kan ?
Bukankah lebih banyak memakan waktu dan tenaga, hanya untuk sekedar memikirkan ? toh tidak akan merubah banyak hal jika itu semua tanpa tindakan berarti ?
Dan sebenarnya, kita ini sedang memerjuangkan apa ?
Bukan. Aku bukan berniat untuk mengibarkan bendera putih, aku tidak merasa ingin mundur dari semua ini. Aku tidak bermaksud untuk lepas dari ikatan ini. Aku memerlukan kalian, sungguh. Sama sekali tidak merasa bahwa akulah yang dibutuhkan. Tapi waktuku sudah cukup banyak terkuras untuk membuat kalian berubah seperti apa yang aku harapkan, dan itu merugikanku. Aku tahu, ini hanya logika manusia yang terbatas. Bahwa aku merasa rugi. Sebenarnya aku yakin tidak ada yang sia-sia. Barangkali hanya caraku saja yang salah atas semuanya. Barangkali hanya aku saja yang merasa tengah berjuang sendirian. Bukankah aku seharusnya menyadari, bahwa bentuk perjuangan kita tidak sehomogen yang kukira ?
Sejujurnya aku takut, teman.
Aku takut tanggungjawab utamaku disini aku lalaikan, aku takut aku melupakan diriku sendiri, aku takut aku tidak becus pada tujuan utamaku.
Akupun ingin, ingin sekali memaksimalkan diri untuk membuat keluargaku bahagia. Seperti alasan kalian ketika membuatku harus bertahan lebih lama dengan semua ini, sedangkan kalian mengurangi beban kalian kan ? rasanya seperti membawa dua beban sekaligus.
Bawa aku ketika kalian berjalan, rasanya saat ini aku perlu dibantu.
Aku tahu, sungguh aku tahu. Semua kontrol ada pada diriku sendiri. Aku benar-benar paham. Aku tahu aku harus membatasi diri. Aku tahu semua ini akan menyita waktu dan pikiranku, mengganggu fokusku. Aku tahu.
Mungkin aku hanya belum tahu bagaimana caranya menarik diri. Menata ulang setiap hal pada diriku sendiri.
Membuatnya selesai dan siap kembali.
Karena sesungguhnya aku tidak pernah benar-benar bisa jauh dari kalian.
Mengertilah, karena saat ini maksud kalimatku berpikir sendiri itu terasa nyata. Tidak ada satupun orang yang mampu kubagi rasa, kubagi cemas, kubagi gelisahku ini. Bahkan akupun tidak tahu, apakah pikiranku ini akan berpengaruh atau hanya menjadi pikiran hampa yang pada akhirnya kembali menyesakkan ?
Apakah kalian pernah terpikirkan tentang tanggungjawab yang akan ditanyakan kelak ? atas keberlangsungan dakwah yang terlanjur kita terima ? yang belum kita teruskan untuk adik-adik kita ?
Ah iya, bagiku, setidaknya sudah tenang jika kewajiban menyampaikan itu sudah terpenuhi. Setidaknya aku bukanlah menjadi jembatan yang rubuh ditengah.
Apakah terpikirkan pula oleh kalian, perasaanku yang tidak tenang mengetahui salah seorang diantara kita sedang tidak baik-baik saja ? kalian tahu apa ? aku tidak bisa berbuat apa-apa!
Se frustasi itukah ? iya. Dan kemungkinan besar aku akan menjalani satu tahun dengannya kembali, dengan beban batin yang bertambah.
Apa kalian akan menyalahkanku karena sedikitpun aku tak bercerita ? karena semua ini memang tak terlihat ? ya sudah. Aku tak mengharapkan apa apa. Barangkali harapanku terlalu banyak dan indah, tanpa ikhtiar apapun yang bisa kulakukan.
Tolong ajari aku bagaimana caranya untuk tidak memikirkan semua ini ? tidak memikirkan bahwa masih banyak adik-adik yang berpotensi, tapi potensi itu tertutup hanya karena malasnya aku terlibat dalam semua ini.
Ajari aku untuk tidak luluh, saat adik-adik memancarkan semangat yang entah mengapa rasanya sungguh tulus. Dan menghapuskan harapan mereka tentang kakak-kakak yang mereka banggakan ? aku tidak mampu.
Katakan padaku bagaimana caranya untuk tegar melihat kakak-kakak yang terluka lebih dari ini, namun masih saja berlama lama di jalan ini. Mengharapkan tetap ada penerus yang memahami, menginisiasi, membereskan hal-hal yang mereka ingin bereskan namun tak sempat.
Sejujurnya aku ingin menjauh, aku ingin mengasingkan diri. Aku ingin mengenali diriku lebih dalam. Aku tidak ingin siapapun menggangguku. Tapi aku tidak mampu. Aku sangat tidak mampu untuk jauh dari kalian. Bahkan untuk menuangkan semua ini pun, tidak semua orang bisa memberikan respon yang kuinginkan.
Setelah ini, kau akan apa ? memelukku lalu mengatakan maaf dan sayang ? atau menguatkanku dan memberiku pandangan optimis kedepan ? sungguh aku tidak membutuhkannya.
Aku tidak lelah dengan kalian, aku tidak membenci kalian atas hal-hal yang tidak kudapatkan. Aku tahu yang tidak sehat adalah diriku, dan inilah caraku mengobatinya.
Aku tidak akan mengikat diri lebih dalam lagi.
Aku tidak akan menyanggupi apapun yang berkaitan dengan semua ini, bahkan jika tidak ada orang sekalipun selain aku.
Aku tahu itu tidak baik, meskipun tidak ada yang salah untuk melakukannya. Aku tidak suka jika aku tidak maksimal dimana-mana, dan mirisnya itu yang aku lakukan selama ini.
Jika ada cara lain untuk mengobatiku lebih baik dari ini, tolong beri tahu caranya.
Apakah ini terlalu tiba-tiba ? aku tidak bermain kode lagi, aku sudah nyatakan bahwa aku tidak baik-baik saja.

Di kursi belakang

berarti aku yang terlalu berharap. berharap bahwa kakak adalah sosok yang luar biasa.
atau memang sebenarnya tidak ada laki-laki yang benar-benar menjaga diri ?
kecewa sekali, melihat kedekatan itu. kalau sama orang lain saja bisa sampai segitunya, lalu bagaimana dengan aku ?
jadi yang kemarin-kemarin itu apa kak ? jadi tatapan itu bukan apa apa ?
apa kakak menatap setiap orang dengan cara yang sama ?

dikursi belakang dalam ruangan itu, aku terdiam. aku benci menyaksikan keadaan, tapi lebih bersyukur karena aku diperlihatkan saat itu.
aku nggak rela, bahkan meskipun kakak hanyalah seorang kakakku, bukan siapa-siapa. aku nggak rela kakak sedekat itu sama perempuan.

aku benci dan aku sedih. aku kecewa. aku tau, semua orang bisa salah. tapi ini sungguh melukai..
kelu banget lidah ini, berapa kali gigi-gigi saling bertemu, rahang mengeras, hanya untuk menahan semua ini

aku percaya sama kakak, semengecewakan apapun kakak dimata orang-orang
aku percaya kakak, masih ada perasaan menjaga di hati kakak
atau mungkin aku hanya khusnudzon selama ini ?

aku ngikutin kakak kak, tapi kenapa kakak malah nunjukin hal yang bikin aku kecewa, banget
aku jadi benci detik-detik kemarin
ketika kakak sebelahan sama temen perempuan kakak, yaampun kak it's so close dan nggak perlu lah tangan nya main main :(

disini aku menggarisbawahi beberapa hal :
1. kakak ngga menjaga. orang yang selow juga punya batas kak.
iya kakak bener, aku gaakan cemburu lah kalo cuman duduk sebelahan doang. kapan aja dan sama siapa aja bisa.
tapi, sampai kakak perempuannya seberani itu sama kakak, aku udah ngga abis pikir lagi.
sampe tangan kakak perempuan itu kena ke kakak, hanya satu detikpun, pecah kayanya pertahananku.

buat apa kakak liat ke belakang kemarin ? mau cari tatapanku ? ya nggak akanlah aku kasih liat kalo aku merhatiin kakak.
aaa :( aku adek tingkat ingusan yang sok soan deket sama kakak. nyatanya aku sama sekali bukan siap siapa bagi kakak kan ?
 semua orang bisa lebih dekat lagi dari jarak dekat kita.
kakak nerima curhatan setiap orang, kakak mbikin orang senyum, kakak ringanin hati orang, terus apa bedanya sama aku ?

memang, saat itu aku dalam ruangan disaat ka dwek seminar. tapi mataku ngga lepas dari kakak, dan harus menyaksikan itu semua dideapn mata, rasanya..
rasanya aku lebih rela kalau kakak segera pergi. biar aku bener-bener tau, sebenernya aku suka atau nggak sama kakak.

rasanya lebih baik aku kenal kakak secukupnya saja, benar-benar tidak perlu untuk slealu dekat dengan kakak.
karena itu menyakitkan. mengetahui bahwa kenyataannya kakak tidak seperti yang kuprasangkakan.
karena aku menyadari, telah membodohi diri sendiri.
semakin kenal, semakin aku tahu seperti apa kakak.

bukan, bukan aku tidak menerima kekurangan kakak, tapi rasanya itu tak pantas kak. aku tidak mengenali kakak dengan versi seperti ini. 
Gatau .. gatau..
Aku pengen banget dapet sesuatu dari kakak, sebelum kakak pergi. Kaya dulu kak l dari kak g. Nggak semua orang peka sama kejadian itu. Dan gatau kenapa aku yang disebelah kak l.sejak itu aku tahu, kak g bukan orang biasa bagi kak l.
Ya Allah, aku ngga tau akan sebengkak apa mataku tanggal  24 Agustus nanti. Aku ngga tau apa aku kuat untuk terus diam dan seolah menjadikan dia biasa aja dihari kepergiannya ? apa aku mampu antar kakaknya nanti buat penempatan ? apa  aku kuat mendengar kata-kata terakhirnya ? meskipun nanti masih bisa kulihat apa aja yang dia lakuin di belahan bumi lain, lewat story nya. Atau bahkan kalo berani, mungkin bisa sampai chatting. Tapi itu ngga akan pernah menggantikan sebuah kehadiran.
Setelah itu, mungkin bisa jadi dua hal yang terjadi,
Aku move on. Sudah lupa dengannya. Sudah lupa bahwa dulu pernah ada sosok kakak yang begitu menguatkan dan sangat kusayang, melebihi kakak-kakak lain. Sudah lupa bahwa aku pernah punya teman bicara yang begitu mendamaikan, sudah lupa bahwa aku selama ini menahan perasaan.
Atau, rasa itu semakin membesar, dan aku menangis sejadinya. Karena rasa rindu takkan terobati. Sudah lepas, terbang entah kemana. Entah hinggap dimana, bersama siapa. Entah datang kembali atau tidak.
Mungkin pilihan terakhir ketika aku tidak kuat, akan kucetikana pada sinta. Atau mungkin pula aku akan jujur pada 40, bahwa sosok yang mereka tanyakan adalah kakak. Sudah. Kan, sudah pergi. Tidak perlu merasa risau akan terbocorkan rahasia itu. Toh, rasanya tiddak akan membesar.
Atau bahkan mungkin, nanti akan ada orang lain yang menggantikan. Akan ada nama lain yang kusebut dalam senang dan sedihku. Ada ? secepat itukah ? segampang itukah ? tidak ingin.
Rasanya seakan mempersiapkan hari menyakitkan. Dan aku akan tetap tenang, nangis saja sedikit, taapa. Jangan lupa katakan terimakasih atas seluruh jasanya selama ini. Lalu, sudah. Selamat terbang, melewati gunung dan perbukitan yang lain, merasakan hilir angin yang baru. Sekalian bawa semua kenanganku, bersamamu.
Tentang ceritaku, sudah. Kututup saja bab ini. Entah akan ada episode selanjutnya atau tidak. Setidaknya ini menjadi bahan pembelajaran dan kisah untuk anak-cucu kelak. Bahwa ibunya pernah merasa memiliki seseorang, dan itu menyakitkan. Ibunya pernah merasa begitu disayangi, dijadikan adik tersayang dan dibantu oleh sesorang yang asangat berjasa. Yang dianggap luar biasa, yang nyatanya itu hanya sesuatu yang sepele baginya.
iya, akan kusimpan saja semua ini. sudah lupakan.

kata pak presiden RI ke-3

Semangat datang atas keyakinan dan kesadaran bahwa saya manusia.

Tidak ada gunanya anda IQ nya tinggi, tapi malas, tidak punya disiplin. Yang penting adalah, anda sehat, bekerja keras, disiplin.

Agama,budaya,ilmu pengetahuan,teknologi.

Jadilah mata air yang jernih, yang memberikan kehidupan pada sekitarmu.