Sabtu, 09 November 2019

semua ini akan membawaku kemana ?

beruntungnya, aku.

seolah dirasa mampu berada satu lingkaran dengan mereka. beruntung. ya, syukuri saja dulu. meskipun kedepannya aku belum tahu, apa yang bisa aku lakukan disana.

bertambah lagi satu lapis lingkaran, entah kedepannya semua ini akan mengarahkanku kemana.

setidaknya aku tau satu hal : aku tidak bisa berdiam diri dengan keadaanku saat ini. kalau mau ikut berlayar, persiapkan diri. kalau merasa kurang cukup bekal, bawa yang bisa dibawa dan perbanyak bekal di perjalanan.

ternyata, raga dan jiwamu bukan hanya milikmu, tapi untuk dakwah ini. dan semuanya tak akan bisa berjalan kalau aku belum bersepakat dengan raga ini. aku perlu membawanya untuk terus melebihi batas yang begitu standar saat ini. aku perlu membereskan banyak hal pada diriku, dengan sedikitnya waktu yang ada. aku harus selesai dengan diriku, agar aku bisa memudahkan jalan dakwah ini. meskipun pemahamanku sekadarnya, tapi semoga maksimalnya aku pada sisi-sisi lain, akan memudahkan jalan dakwah ini.

berkahilah, Ya Allah..
luruskanlah niatku Ya Allah, aku.. sangat takut.

audzubillahiminassyaitonirrojim

Minggu, 03 November 2019

Panca

Aku sangat menyayanginya, meskipun itu adalah hal terakhir yg akan aku ungkapkan padanya.

Temanku ini, hatinya bersih.
Padahal aku tau, kita beda keyakinan. Tapi aku paham dia patuh pada apa yang dia yakini.

Temanku ini, bukan orang yang nakal, seperti yg dia katakan. Dan aku percaya. Meskipun tidak bisa memberi kepercayaan padanya.

Temanku ini, menjadi orang pertama yang kupanggil ketika terhimpit
Menjadi orang pertama yg selalu bersedia
Entahlah, sepertinya baginya hidup adalah sebuah pengabdian
Untuk memberi dan memberi

Temanku ini, kuharapkan turunnya hidayah untuknya

Atas ketulusan dan kebaikan hatinya, semoga Allah berkenan untuk memilih hatinya terbuka pada cahaya kebenaran.

Aamiin

Sabtu, 02 November 2019

temanku kuat sekali

Ada seseorang yang kau hindari hanya karena prasangka.
Seseorang yang kamu cemburui karena menurutmu dia mendapatkan sesuatu yang tidak kau dapatkan
Ada seseorang yang tengah berputar dalam pikirannya, ini dan itu, dihadapanmu. Tapi rasanya dirimu tak terlibat disana. Pun, terlalu berpihak pada ego untuk tak melibatkan diri.
Lalu,dengan teganya kau biarkan dia bersusah payah, berlelah lelah semalaman. Mungkin dia masuk angin, atau banyak rencananya yang terhimpit karena amanahnya belum selesai disini dan disitu.
Mungkin juga dia berkali-kali terganggu dan tersita waktunya hanya untuk memikirkan ini dan itu, yang sejatinya amanah-amanah itu memudahkan amanah-amanah yang kau pikul.

Kau sejenak berpikir, ah memang itu bagiannya. memang itu tugas dia, dia bisa melakukannya tanpamu. Dan prasangka itu diperkuat dengan enggannya dirimu untuk bertanya lebih dulu apa yang tengah ia tanggung detik itu, "ah, sepertinya dia mampu menyelesaikannya tanpaku. Buktinya dia masih lancar saja mengurusi ini itu" pikirmu. Lalu akhirnya kau ambil keputusan untuk tidak perlu terlalu banyak mengarahkan, meskipun kamu sangat ingin mengerjakan ini itu yang belum dilakukan olehnya.

Atau bahkan, ketika tugasmu pun diselesaikan olehnya. Apa yang kau rasakan ? entahlah.. sejenak sepertinya kau merasa payah, karena sesederhana tugas itu saja menjadi runyam akhirnya. Tapi disisi lain, egomu berkata "ah kan, itu bagianku. lihat, kini dia selesaikan sendiri. tidak suka, aku tidak suka".

Padahal, bukankah kamu pernah berada diposisinya ? Ketika runyamnya pikiranmu melebihi bola kusut yang bahkan untuk bercerita dan meminta bantuan pun perlu mengumpulkan energi yang lebih.. Bukankah pada saat saat itu, yang kau lakukan hanya mengeluh dan mengeluh ? pantas saja  orang lain tidak mengerti apa yang bisa mereka lakukan, karena saat itu kau sudah tepar terlelah-lelah,tidak sempat cerita. Lalu esoknya, terburu-buru kembali memulai hari. Ah, kau harusnya sudah lebih paham,Ci.

Maaf, tapi ternyata aku lakukan itu padamu kemarin,teman.
Atas kesempitan kesabaranku, dangkalnya pemahamanku, pendeknya pemikiranku, dan besarnya egoku, sampai-sampai setega itu rasanya kulakukan itu padamu.
Aku menarik diri, membiarkanmu bersibuk-sibuk ria, memusingkan ini itu. Karena ketika aku terlibat, justru aku melukaimu dengan kata-kataku, dalam percakapan sederhana berujung perdebatan. Ah, dasar. Memang aku payah mengontrol kata-kataku.
Aku pun payah untuk menurunkan egoku, hanya untuk sekedar bertanya, apa yang bisa aku lakukan untukmu.
Aku payah untuk sekedar menyediakan telinga dan waktu untuk mendengarmu.
Aku payah.
Aku payah.

Atas amanah pertama ini, aku sangat minta maaf. Sangat. Aku memang tipe mendominasi, sok mengatur, kadang melangkahi. Tapi akupun sadar bahwa itu salah. Dan langkah selanjutnya justru lebih salah lagi kulakukan, dengan menarik diri. Tidak mengulurkan bantuan. Maaf..

Hari ini, aktualisasi dari berpekan-pekan koordinasi kita. Dan mungkin saja, jika aku yang berada dalam posisimu selama ini, aku tidak akan mampu.
Makasih ya zid, sudah berbesar hati memahamiku.


-Sekretaris TM,setelah Seminar Qur'an-
2/11/2019

tidak, tidak seperti yang kamu kira Suc!

aku tidak tahu bahwa ternyata penjagaan Allah meliputi apa apa yang bahkan tidak sempat aku pikirkan.. Astaghfirullah.. MasyaAllah..

bahkan selama ini Allah menjaga hatiku, menjaga prasangkaku atas sesuatu. Allah jaga aib-aib hamba-Nya, benar2 dijaga. sampai sampai aku masih tetap terpesona dengan apa apa yang dia lakukan, meskipun mulai terlihat beberapa hal yang mungkin saja tak bisa diterima setiap orang.

aku.. sampai kelu Ya Allah..
benar.. mungkin saja aku tidak cukup kuat untuk menghadapinya. jadilah sosok itu tidak didekatkan padamu, tidak dihadapkan padamu. Alhamdulillah. Bukankah jika dibanding temannya, dia lebih bisa menyakitimu ? bukankah temannya lebih mudah untuk kau terima ? bukankah banyak hal yang kau syukuri setelah ini ? Aaaa masyaAllah..

maafkan aku Ya Allah, yang pernah terlalu sempit berpikir..
maafkan aku yang sangat sok tahu ini Ya Allah..

benar-benar Engkau telah persiapkan yang terbaik untuk kami, pasti.
tidak ada kedzoliman sedikitpun.

aku tidak sakit hatiiiiii, sungguh. aku justru bersyukur kini.
dan tolong yaa suc, ini dijadikan pelajaran bahwa apa apa yang kamu dapat saat ini sungguh, yang terbaik diantara yang terbaik suc. ngga pernah sedikitpun yang orang lain itu lebih baik dan kamu perlu cemburu. ga boleh suc, gausah, karna sungguh, YANG TERBAIK SUDAH KAMU DAPATKAN, TIDAK PERLU MENGAIS YANG BIASA SAJA UNTUKMU.

saat ini, seperti itu dulu. oke, satu kegiatan membuka siapa dirimu.
entah nanti, entah.
tapi semua ini membuatku mempunyai alasan yang cukup untuk menguatkan hati dan menjadikan dirimu seseorang yang tidak perlu terlalu aku pikirkan :)

terimakasih banyaaaak <3

Minggu, 27 Oktober 2019

aku tidak tahu

Ketidaktahuan terkadang lebih menenangkan daripada mengetahui sesuatu
atau memahami sesuatu
atau merasakan sesuatu

menjadi orang pada posisi itu juga tidak sepenuhnya salah
tidak apa, manusia memang diberikan batasan

mungkin saja, memang karena kita belum mampu memikul tanggungjawab atas kondisi itu
Allah buat kita gatau, agar kita ga perlu mempertanggungjawabkan apa apa yang seharusnya kita lakukan ketika menjadi orang yang sudah mengetahui, sudah memahami, sudah merasakan.

tidak perlu iri bukan? justru hidup lebih sederhana, dan ringan dijalani :)

aku tidak tahu, bukan tidak mau tahu
sungguh aku mau terlibat dan menjadi bagian dari orang orang yang mengetahui, merasakan, pun mengerti. bukankah dengan itu kita bisa memberi manfaat yang lebih luas?

Allah bilang, apakah sama antara org yang mengetahui dan tidak mengetahui ?

aku sedih, karena aku bukan jadi bagian yang tau.
tapi apakah aku bisa meminta keadaan berbalik? pasti ada maknanya dari semua ini.

gaboleh berprasangka buruk

Selasa, 08 Oktober 2019

ordinary boy (2)

(1)
Waktu itu, aku beradu dengan waktu. Menaiki ojek online hanya untuk mengalahkan waktu, agar dapat sesegera mungkin hadir disana, melihatmu. Ditengah perjalanan kau tahu apa ? selintas kuberpikir, mungkin ini memang jalan Allah, menjadikanku tidak hadir disana karena mungkin saja aku tidak sekuat dan sesiap jika aku hadir disana.

tapi, aku sampai juga. sudah kusiapkan kata-kata dan tindakan yang akan kulakukan, sembari berdoa semoga kau belum keluar dari ruang Auditorium, agar setidaknya aku bisa menyambutmu dengan suka cita. Salah lagi, Allah tidak Ridho pada rencanaku itu.

Macet, waktu terus berjalan. pasti tidak akan sempat. Oh, ternyata dirimu sudah disambut rekan-rekan lainnya, terkirim fotomu disana. Seperti melewatkan moment penting yang kutunggu, bagaimana menurutmu rasanya ? Ah ya, barangkali memang aku tak sekuat itu untuk bertemu tanda kepergian.

Memasuki keramaian, bismillah. Melakukan tugas kurir, belum selesai mondar-mandir. Mencari celah sana sini, antar barang dan koordinasi sana sini, lalu tak sengaja menangkap matamu, disana. diantara kerumunan banyak orang, aku menangkap matamu. mata yang tercekat, sama tercekatnya denganku.

entahlah, saat itu yang kurasa, kita saling menemukan dan memanggil lewat mata.

"eh.. suc"
"eh.. kak.. , sebentar kak mau anter ini dulu"
"..." (belum bertingkah apapun, dan tidak jadi bertingkah)

informasi ini berloncat loncat pada neuronku, cepat sekali dan aku bingung harus bagaimana. apakah tadi benar dirimu ? cepat sekali kita bertemu. dan yang kulihat, dirimu melihatku, eh (?) dan lalu, mengapa pula sih aku seakan menjanjikan sesuatu, mengatakan sebentar dulu, seakan meminta dia menunggu. Dan lagi, yang kulihat bukan hanya dirimu. atau memang itu sebenarnya alasan dirimu tercekat ? didepanmu ada orang lain, berkerudung, melihat dirimu. Hm, apakah bisa perih ini kudefinisikan cemburu ? ahah, tidak pantaslah cemburu. Jadi, yaa.. yang kemarin itu cara Allah memperkenalkan 'dia' mu padaku :)

(2)
ya, pada akhirnya kita bertemu, dengan perasaan hati yang senetral mungkin. bahkan ada foto yang terekam. tapi sungguh aku tidak ingin menangis saat itu, berucap saja aku tak bisa. dan kau pergi, aku tidak bisa menahan lebih lama, aku tidak tahu juga harus mengungkapkan apa. Tapi bersyukurlah banyak-banyak, karena saat itu kamu tidak melakukan hal-hal gila yang akan kau sesali dikemudian hari.. HHH

(3)
Pada akhirnya, moment wisuda itu tidak seperti yang aku bayangkan dan aku siapkan. mungkin juga moment perpisahan nanti, barangkali tidak sesakit itu melepas sesuatu, apalagi yang memang sebenarnya tidak pernah kita miliki.


ordinary boy (1)

Aku selalu ingat wajah itu, kalau belum dituangkan akan selalu terbersit. jadi aku tuangkan saja biar tidak berseliweran dalam pikiran dan mengganggu fokusku.

Ordinary Boy-

tidak ada yang spesial darinya, dari awal pertemuan hingga kini, atau mungkin entah nanti.
tidak ada yang istimewa darinya, dari pertama dia berucap dan menyapa, dari setiap perbincangan yang bermuara pada perasaan tenang dan lega, sungguh tidak ada yang spesial.
tidak ada yang spesial pada setiap episode dalam buku-buku bulan ku selama ini, bahkan posisinya hanya mengisi kekosongan, melengkapi seperti pasir pada gelas kaca. tidak terlihat, tapi mengisi.

sungguh aku tidak menganggapnya spesial, tapi jelas aku mengharapkan dia menjadikanku spesial, seperti apa-apa yang kudefinisikan selama ini dari tingkah lakunya padaku.

disonansi,memang. pertentangan dalam diri sendiri.
jelas, aku hanya menutupi kenyataan bahwa aku menjadikannya spesial, hanya untuk meredam rasa. menjadikannya kecil sekecil-kecilnya, sembari menyiramnya dengan subur, payah memang.

seperti menanam bibit kangkung diatas kapas, disimpan diatas genting. sudah tahu kemungkinan bertahannya akan sangat kecil, tapi tetap saja kamu paksakan. setidaknya pertambahan tingginya saja membuatmu sungguh bahagia kan ? tapi suatu saat nanti kau pun tahu, dia akan selesai.

aku tidak percaya ada yang menganggapku spesial, meskipun aku ingin ada yang menganggapku begitu.

tapi, terimakasih ordinary boy, kau membuatku memiliki perjalanan rasa yang luar biasa!