Senin, 05 Agustus 2019

Di kursi belakang

berarti aku yang terlalu berharap. berharap bahwa kakak adalah sosok yang luar biasa.
atau memang sebenarnya tidak ada laki-laki yang benar-benar menjaga diri ?
kecewa sekali, melihat kedekatan itu. kalau sama orang lain saja bisa sampai segitunya, lalu bagaimana dengan aku ?
jadi yang kemarin-kemarin itu apa kak ? jadi tatapan itu bukan apa apa ?
apa kakak menatap setiap orang dengan cara yang sama ?

dikursi belakang dalam ruangan itu, aku terdiam. aku benci menyaksikan keadaan, tapi lebih bersyukur karena aku diperlihatkan saat itu.
aku nggak rela, bahkan meskipun kakak hanyalah seorang kakakku, bukan siapa-siapa. aku nggak rela kakak sedekat itu sama perempuan.

aku benci dan aku sedih. aku kecewa. aku tau, semua orang bisa salah. tapi ini sungguh melukai..
kelu banget lidah ini, berapa kali gigi-gigi saling bertemu, rahang mengeras, hanya untuk menahan semua ini

aku percaya sama kakak, semengecewakan apapun kakak dimata orang-orang
aku percaya kakak, masih ada perasaan menjaga di hati kakak
atau mungkin aku hanya khusnudzon selama ini ?

aku ngikutin kakak kak, tapi kenapa kakak malah nunjukin hal yang bikin aku kecewa, banget
aku jadi benci detik-detik kemarin
ketika kakak sebelahan sama temen perempuan kakak, yaampun kak it's so close dan nggak perlu lah tangan nya main main :(

disini aku menggarisbawahi beberapa hal :
1. kakak ngga menjaga. orang yang selow juga punya batas kak.
iya kakak bener, aku gaakan cemburu lah kalo cuman duduk sebelahan doang. kapan aja dan sama siapa aja bisa.
tapi, sampai kakak perempuannya seberani itu sama kakak, aku udah ngga abis pikir lagi.
sampe tangan kakak perempuan itu kena ke kakak, hanya satu detikpun, pecah kayanya pertahananku.

buat apa kakak liat ke belakang kemarin ? mau cari tatapanku ? ya nggak akanlah aku kasih liat kalo aku merhatiin kakak.
aaa :( aku adek tingkat ingusan yang sok soan deket sama kakak. nyatanya aku sama sekali bukan siap siapa bagi kakak kan ?
 semua orang bisa lebih dekat lagi dari jarak dekat kita.
kakak nerima curhatan setiap orang, kakak mbikin orang senyum, kakak ringanin hati orang, terus apa bedanya sama aku ?

memang, saat itu aku dalam ruangan disaat ka dwek seminar. tapi mataku ngga lepas dari kakak, dan harus menyaksikan itu semua dideapn mata, rasanya..
rasanya aku lebih rela kalau kakak segera pergi. biar aku bener-bener tau, sebenernya aku suka atau nggak sama kakak.

rasanya lebih baik aku kenal kakak secukupnya saja, benar-benar tidak perlu untuk slealu dekat dengan kakak.
karena itu menyakitkan. mengetahui bahwa kenyataannya kakak tidak seperti yang kuprasangkakan.
karena aku menyadari, telah membodohi diri sendiri.
semakin kenal, semakin aku tahu seperti apa kakak.

bukan, bukan aku tidak menerima kekurangan kakak, tapi rasanya itu tak pantas kak. aku tidak mengenali kakak dengan versi seperti ini. 
Gatau .. gatau..
Aku pengen banget dapet sesuatu dari kakak, sebelum kakak pergi. Kaya dulu kak l dari kak g. Nggak semua orang peka sama kejadian itu. Dan gatau kenapa aku yang disebelah kak l.sejak itu aku tahu, kak g bukan orang biasa bagi kak l.
Ya Allah, aku ngga tau akan sebengkak apa mataku tanggal  24 Agustus nanti. Aku ngga tau apa aku kuat untuk terus diam dan seolah menjadikan dia biasa aja dihari kepergiannya ? apa aku mampu antar kakaknya nanti buat penempatan ? apa  aku kuat mendengar kata-kata terakhirnya ? meskipun nanti masih bisa kulihat apa aja yang dia lakuin di belahan bumi lain, lewat story nya. Atau bahkan kalo berani, mungkin bisa sampai chatting. Tapi itu ngga akan pernah menggantikan sebuah kehadiran.
Setelah itu, mungkin bisa jadi dua hal yang terjadi,
Aku move on. Sudah lupa dengannya. Sudah lupa bahwa dulu pernah ada sosok kakak yang begitu menguatkan dan sangat kusayang, melebihi kakak-kakak lain. Sudah lupa bahwa aku pernah punya teman bicara yang begitu mendamaikan, sudah lupa bahwa aku selama ini menahan perasaan.
Atau, rasa itu semakin membesar, dan aku menangis sejadinya. Karena rasa rindu takkan terobati. Sudah lepas, terbang entah kemana. Entah hinggap dimana, bersama siapa. Entah datang kembali atau tidak.
Mungkin pilihan terakhir ketika aku tidak kuat, akan kucetikana pada sinta. Atau mungkin pula aku akan jujur pada 40, bahwa sosok yang mereka tanyakan adalah kakak. Sudah. Kan, sudah pergi. Tidak perlu merasa risau akan terbocorkan rahasia itu. Toh, rasanya tiddak akan membesar.
Atau bahkan mungkin, nanti akan ada orang lain yang menggantikan. Akan ada nama lain yang kusebut dalam senang dan sedihku. Ada ? secepat itukah ? segampang itukah ? tidak ingin.
Rasanya seakan mempersiapkan hari menyakitkan. Dan aku akan tetap tenang, nangis saja sedikit, taapa. Jangan lupa katakan terimakasih atas seluruh jasanya selama ini. Lalu, sudah. Selamat terbang, melewati gunung dan perbukitan yang lain, merasakan hilir angin yang baru. Sekalian bawa semua kenanganku, bersamamu.
Tentang ceritaku, sudah. Kututup saja bab ini. Entah akan ada episode selanjutnya atau tidak. Setidaknya ini menjadi bahan pembelajaran dan kisah untuk anak-cucu kelak. Bahwa ibunya pernah merasa memiliki seseorang, dan itu menyakitkan. Ibunya pernah merasa begitu disayangi, dijadikan adik tersayang dan dibantu oleh sesorang yang asangat berjasa. Yang dianggap luar biasa, yang nyatanya itu hanya sesuatu yang sepele baginya.
iya, akan kusimpan saja semua ini. sudah lupakan.

kata pak presiden RI ke-3

Semangat datang atas keyakinan dan kesadaran bahwa saya manusia.

Tidak ada gunanya anda IQ nya tinggi, tapi malas, tidak punya disiplin. Yang penting adalah, anda sehat, bekerja keras, disiplin.

Agama,budaya,ilmu pengetahuan,teknologi.

Jadilah mata air yang jernih, yang memberikan kehidupan pada sekitarmu.


Rich Girl tetap perlu perbekalan, GO!

Hey ! daripada merutuki ketidakjelasan hidup, aku ingin berbagi saja betapa kayanya hidupku.

Memang sih, manusia itu suka tidak menyadari hal-hal besar yang dititipkan kepadanya. Seringnya manusia tu berpikir bahwa dia tidak bisa apa apa, tidak berguna, tidak tidak tidak. Padahal ada banyak sekali hal yang bisa dilakukan , kan ? hanya saja belum jelas disadari.

Seperti detik ini, di rumah, sendiri, diam. Makanan ? ada. Minum enak ? bisa beli,ada uang. Ada akses wifi. Ada ortu. Ada kamar milik sendiri, yang kenikmatannya jarang didapet kalo di kontrakan. Bisa baca quran tanpa dek dekan. Gada yg bikin minder gegara liat orang dah belajar. Atau liat orang ibadahnya kenceng banget. Gaada. Karena akutu tipe yang ‘kalo liat orang lari, akunya malah kendor’ jadi kalo liat orang ibadahnya kenceng dan aku malah makin jatoh, ya aku down. Hehe. Aku butuh waktu dan ruang untuk memotivasi dan menata diri sendiri. Meskipun itu di tempat serame apapun, aku bisa menata diri asalkan benar-benar sendiri.

Nah terus akutu dapat kekuatan dari diri aku sendiri. Ya emang sih, dikelilingin orang dan dapet feed back baik tu salah satu energi buat orang kek aku, tapi aku juga perlu memanage diri. And then, jadi deh kekuatan besar buatku.

Oh hey, aku punyak banyak hal loh sebenarnya saat ini. Pastinya banyak temen, hehe. Alhamdulillah. Dan nggak semua kata-kata menyeramkan yang orang-orang bilang tentang kuliah tu bener loh. Kuliah itu kamu gapunya temen yang tulus ? nggak juga. Aku punya, bahkan banyak. Mereka dateng di waktu yang tepat. Mereka datang dan aku merasa menjadi orang yang berguna. Ya, mirip dengan datang kalo ada butuhnya aja ? mungkin. Tapi jelas sih, bedanya hanya di sudut pandang kita. Ngga ada yang buruk dimataku.

Orang bilang ini liburan, hmm. Bagiku ini adalah jeratan waktu yang terasa lama dan aku  tak bisa apa-apa. Huh, memang manusia jarang bersyukur. Saat penuh dan jenuh, ingin sekali segera liburan. Meronta-ronta pada waktu yang tak bisa lebih cepat datangnya. Tapi setelah diberi libur, huh ! bosan sekaliiii. Tapi sungguh, kini aku sangat tidak tahu harus melakukan apa, padahal ketika jadwal terasa penuh saat di ibu kota, sudah kurincikan hal apa saja yang ingin kulakukan..

Aku ingin beraktivitas lagi. Aku sangat butuh bersosialisasi, sehingga tidak bisa satu hariku tanpa buka wa dan ig. Berharap satu dua notif muncul dan sedikit obrolan tercipta. Aku kaya gasabar ingin ketemu temen temen di otista. Padahal kalo detik ini ke otista pun, temen temen kan masih di rumah ? lol emang wkwk. Pengen karoke rasanya wakwakawkawkakwawakwak. Ngga boleh ya ? he.

Aku diam. Menatap layar hp yang membuatku sedikit pusing dan panas. Bangun siang, karena setelah subuh tidur lagi. Beres-beres sedikit sekalii, hanya : mencuci piring, memanaskan makanan, menjemur bajuku sendiri setelah mencucinya, mengangkat jemuran, sesekali menyiram tanaman. Sisanya menonton tivi, berdialog dengan diri sendiri, kadang bapak pulang unutk sekedar makan, atau bersih-bersih diri untuk siap siap pergi lagi, hmm survey e-commerce, lalu mama pulang kantor. Dan kehidupan berulang dengan pola yang sama berminggu minggu kedepan.

Aku suka mengenang. Aku sukaaaaaa. Aku lebih banyak berimajinasi dan memanggil banyak memori masa lalu. Lebih menyenangkan daripada mencari-cari hal baru di ig, atau melihat story wa teman teman, yang kebanyakan seperti fake, ups haha.

Tapi aku juga takut sebenarnya, aku sedang mempersiapkan mental untuk menghadapi salah satu anak tangga berikutnya. Tingkat 4 dengan skripsinya. Siap ? ya ! aku siap !! SIAP BELAJAR LEBIH JAUH.
Aku ingin benar-benar menikmati prosesnya. Aku tidak ingin stress. Tidak ingin merasa terbebani, maka dari itu kusedang membangun alasan dan dorongan kuat, yang menjadi bekal kalau-kalau nanti rintangan besar menghadang.

Jadi yang pertama apa ?
1. Inget bapak.
Inget muka bapa waktu nganter kamu tes stis, pagi pagi dingin banget anter ke bandung. Waktu nunggu pas tes itu, dan kamu jadi juara pertama. Betapa bangganya ! kamu tau ga sih ? saat itu bapak udah nanem keyakinannya kalo kamu bisa. Yaampun, ada yang percaya aku bisa !!
2. Inget adek-adek cucu mbah dan engking
Kamu kaya apa sih didepan mereka ? teteh yang pinter banget, sampe kuliahnya di jakarta. Padahal jakarta kan kalo di tivi tu keras. Teteh yang tetep shalihah, kaya tiap pertanyaan tentang agama pasti bisa jawab. Teteh pokonya contoh banget deh. Teteh jarang ke enin, ke mbah. Belajar terus ato ngga sibuk di kuliah. Huft, masa iya gitu :( mencoba memenuhi ekspektasi mereka, yang bahkan tidak merasa berat aku, tidak merasa dinilai.
3. Coba lampauin batas ini, bisa, insyaAllah. Cobainnn, kamu bakal seneng banget sama pencapaian ini.
4. Tujuan hidupmu apasih ? coba deh jadiin ini karya pertama, karya besar yang waw! Kaya waktu bikin bunga tempel untuk dekorasi amuba, itu proyek besarmu kan ? kaya bikin poster sig, yang detailnya kamu pilih sendiri. Bahkan kamu masih menerka2 apa iya itu datanya bener, kesimpulannya bener, hiyahiya dah berlalu deh. Tapi really, akhirnya aku bisa !! dan meskipun ga bagus dan keren amat, setindaknya dia benar2 mencerminkan kemampuanku. Bagus kok ci, warna sama fontnya pas, kurang banyak aja isinya. Huehehehehe. Aku bisa gaes, aku hanya perlu banyak belajar!!
5. Kamu tau ? ada banyak orang yang tidak meragukanmu. Kamu memang bisa, dan mereka mendefinisikan kesuksesan dirimu dengan ekspektasinya. Tidak masalah, aku tidak merasa berat atau perlu mewujudkan semuanya. Tapi aku tahu, aku harus jadi salah satunya, menjadi mimpi yang kuwujudkan.
6. Balik lagi, ini untuk Allah. Berjanjilah, ini kupersembahkan untuk Allah. Aku mau konsisten dan sedikit-sedikit jalaninnya. Aku yakin Allah bakal bantu, dan aku ingin berusaha dengan maksimal. Aku ingin bersyukur menalaninya. Tenang, tapi tidak terlena. Bantu aku ya Allah..
7. Ini bakal jadi batu loncatan pertama, untuk suci dengan versi sejujurnya. Versi dewasa dan berusaha sungguh-sungguh. Ini buat bekal S2 !!!!
8. Skripsi ini menjadi langkah oertama untuk memulai sesuatu yang baru. Suci yang serius dan jujur. Tidak menunda lagi, dan bersegera mencapai prestasi maksimal, dimana Allah akan tersenyum setelah melihat keringatku mengalir da kakiku menapak puncak rasa syukur.

Alhamdulillah, begitu. Dan doa pertama adalah dengan melakukan yang bisakulakukan , sekarang. Tidak mengulur waktu.

Ehiya, aku senang sekali dititipi mereka. Iya, mereka anak-anak 40. aku sebenarnya membuat banyak lapisan. Aku sudah siap siap pada lingkaran ini. Dan kini satu persatu lapisan itu terbuka. Sedih atau senang ? entah.. masih ada satu lapisan yang tidak akan pernah kuberikan.  Meskipun sudah banyak yang kupercayakan pada mereka. Tidak. Tidak seluruh hidupku kok. Aku menyimpan bagian penting lainnya.

Aku ingin seutuhnya terbuka pada mereka, pada 40. aku ingin aku karoke, ingin pergi bersama, ingin main terus. Aku senang dititii mereka. Aku tahu, ini tidak akan bertahan lama. Aku tidak akan membuka isi hatiku, dengan siapa dengan siapa. Itu sangat beresiko, tapi pasi ada saatnya akan kukatakan satu nama. Entah yang mana.

Jumat, 26 April 2019

Bicara

Sosok dihadapannya tahu, bahwa dirinya tengah berpikir. Mencari definisi yang tepat untuk menggambarkan situasi yang dihadapinya saat ini. Tidak, dia bukan gadis remaja yang tak tahu maksud dari kedatangan sosok dihadapannya dengan jarak sedekat ini. Jelas gadis ini tahu persis apa yang sosok dihadapannya ini inginkan.

untuk beberapa detik berlalu, buku dihadapannya menjadi menyelamat keadaan. Ditambah raut wajah fokus dan jemari tangan yang memainkan ujung atas lembar kertas. sempurna menyelamatkan si gadis untuk beberapa saat.

nampaknya, sosok dihadapannya pun mulai gusar. menimbang keadaan, tetap melaju atau dibatalkan saja niat itu. bergerak ke sisi lain meja, membunuh waktu atas kekakuan yang terjadi. membuka-buka isi buku, seakan mencari tahap selanjutnya yang harus dilakukan.

"ayo tebak, siapa istri Rasulullah SAW yang merupakan anaknya Umar bin Khatab ?"

"ngg.... Asma! (eh bukan. Asma kan anak Abu Bakar.) Shafiyyah! (kok kaya bukan ya.)
Ah iya, Hafsah! Hafsah binti Umar bin Khatab. Sayyidah tegar dan kuat, seperti ayahnya"

"sebentar ya aku cek catatanku dulu.. Iya benar, Hafsah."

hmm.. tersungging senyum.

Satu-Nol. Dia berhasil,
ntuk mengajakku bicara.

ceritanya belum selesai

Mereka berada dalam posisi masing2, dengan ritmenya masing2. saling melihat, saling mengetahui.
dengan jarak yang pas, masih terasa hangatnya, namun tidak saling membakar. masih terasa teduhnya, tapi tidak melalaikan.

senyuman itu kadang memiliki dua arti, pandangan yang saling menghormati, dan kondisi yang menantang hati. memaksamu memilih ; mengambil celah dan menikmatinya atau bertahan untuk janji di masa depan.

mereka sudah belajar, menyatukan irama ternyata sesulit itu, ada hal yang perlu dipangkas dari keduanya. untuk mengerti dan memahami.

itu yang mereka pelajari dalam organisasi yang sama.

karena ceritanya belum selesai, penulis tidak bisa berharap banyak pada ujung cerita.

saksikan dan doakan saja, agar keduanya tetap pada jalannya, tetap menjaga kesucian hatinya. hingga takdir membawa mereka pada kesempatan yang baik, dan semesta berjalan mengikuti irama takdirnya.

Senin, 08 April 2019

Kotak Kecil Bli

Bli, dan kotak kecilnya

didalamnya menyimpan rahasia. entah rahasia yang mana
aku takut, sungguh..

aku tak menyangka mata itu akan kutatap lekat dan kuberikan rasa percaya didalamnya, aku mendapatkannya pada dua bola mata itu.
aku tahu, dia orang pertama yang tahu, siapa sosok yang mengguncang semestaku.

sampai detik ini , semua itu hanya asumsi.
tapi tepat sekali dugaannya, aku sangat takut.

takut ? jadi ini dosa kah ?
aku sangat takut dan lebih menyeramkan lagi apabila aku terpancing untuk bertanya-tanya.

apakah aku melakukan sesuatu yang tercium oleh nya ?
apa aku seterlihat itu ketika senang bertemu dengannya ?
ataukah tingkahku sangat terbaca saat gugup dihadapannya ?
apakah bli tahu darinya ?

karena sejujurnya yang paling tahu diriku dengannya ya hanya kami, hanya kami dan Allah.
ya mungkin aku ceritakan, tapi tidak pada orang yang ada disekitar bli. dan ketika bli tahu, rasanya aku ingin bertaya bagaimana dia bisa tahu ? bukankah ini hanya diantara aku  dan dia ? apa bli tahu darinya ? geer sekali orang itu, kalau memang benar iya.

pikiranku ringan sekaligus berat setelah ini,

hikmahnya;
benar-benar tutup semua celah. tutup
bisa jadi bli tahu darimu, dari perkataanmu yang ambigu dan dia menyimpulkan sendiri.
bisa jadi bli terlalu peka,  hingga dentuman hatimu terasa ketika menceritakannya


Kamis, 04 April 2019

tempe 1000 dan buavita

tempe 1000 dan buavita


sore itu maskam ramai. pradugaku, dia disana. diantara lantunan yang kudengar.
semakin merasa hina, seperti biasa.

detik itu, aku tahu. aku sudah menyakiti satu ahti. dan entah itu akan membekas sedalam apa.
detik itu, aku cemburu. sangat. pada hidayah yang orang lain dapatkan.
detik itu, rasanya aku cangkang indah yang rapuh.

aku pulang, dengan tidak sadar terus berada dalam pikiran tentangnya.
dan sama sekali tidak menduga akan bertemu dengannya.

kesempatan itu memang ada, dan bisa diambil.
tapi bisa juga ditolak.
dan setan bekerja disini.

setelah mengambil sepeda, keluar gang menuju persimpangan jalan. di warung sembako itu seseorang berdiri, dengan gelang khas yang membuatku mengenalinya.

jangan tanya otakku, dia sedang menyingkronkan.
jangan tanya hatiku, dia pasti berkata iya.
tanya imanku ? malu sangat.

dan secepat itu, aku memberhentikan diri. membiarkan seolah2 ini sebuah ketidaksengajaan. aku mengambil kesempatan itu.

hanya 80% memang pradugaku, tapi aku memberhentikan sepeda di warung makan sebelahnya dan turun, mendekat ke meja saji, berbicara pada penjual setelah merogoh saku yang hanya ada uang 1000 rupiah.

aku menyadari dia melihatku, karena aku memang berencana menunduk. dan betapa malunya ketika hanya ada 1000 di sakuku ._. masa iya aku balik badan lalu pinjam uang ? jelas2 aku pura2 tidak tahu itu dia.

akhirnya, uang 1000 ditukar tempe.
berbalik badan dan aku sempat berpikir akan mengatakan apa.

kau tau bagaimana tampangnya saat itu ?
terheran heran sebenarnya aku.

seakan dia sengaja menunggu disana, diatas motornya, meminum buavita yang ia beli. terseyum kedepan. dan ketika aku datang, dia menengokkan kepalanya, masih dengan senyum yang sebelumnya dia siapkan.

aku ? ihh, apaan sih ini anak.
pertahananku cukup kuat. aku bisa mengendalikan diri dihadapannya. aku tidak kalah dengan senyum itu. aku tidak skakmat !

sepersekian detik hanya saling melihat, lalu aku melepas pandangan sambil menyapanya.
"oy, ... ko baru pulang" yang sepertinya dia tidak dengar karena aku pakai masker.

lalu dia bertanya,
"dimana sih kosnya ? di dama ?"

"engga" kubilang, bersamaan dengan dia yang memastikan ulang "ha?"

"enggaa, aku belok kiri"

...

naik sepeda, dan siap siap jalan.
"duluan ya, assalamualaikum"
tidak memastikan apakah terjawab atau tidak.

cukup.

pertama, dia berarti melihatku naik sepeda.
dua, aku gatau apa yang dia liat
tiga, aku malu


aaaak