tidak apa membaur, tapi jangan melebur.
kau tahu apa saja batasnya bukan ? jangan membuka celah
akrab itu baik, tapi pastikan hatimu dan dirimu tetap terjaga seutuhnya.
kamu paham. Dia juga paham.Harusnya kita saling menahan.Ketika ada yang lemah, salah satu yang lain menarik diri. Bukan keduanya saling mendekat.
Ya, kita sudah dewasa.Dewasakanlah hati kita.
Kamis, 15 Februari 2018
Pintu
Sebesar apapun tetap jangan dibuka!
jadilah sisi yang lain,mungkin saja kamu pun adalah ujian baginya,bantulah ia, jangan mempersulit.
kenyamanan bisa dibangun dengan siapapun, pertanyaannya adalah mau atau tidaknya membangun itu. Pun kalau memang mau, tanyakan lagi boleh tidaknya kenyamanan itu dibangun. Disinilah titik ujian itu berada, menahan diri untuk melakukan halyang diinginkan namun tak boleh dilakukan, untuk kebaikan dirimu sendiri.
kau boleh menyukainya, tapi jangan tunjukkan.
tetap jadi dirimu yang ramah,tapi tahanlah perasaanmu, jangan jadikan dirimu rendah dan mudah ditaklukan.
jadilah sisi yang lain,mungkin saja kamu pun adalah ujian baginya,bantulah ia, jangan mempersulit.
kenyamanan bisa dibangun dengan siapapun, pertanyaannya adalah mau atau tidaknya membangun itu. Pun kalau memang mau, tanyakan lagi boleh tidaknya kenyamanan itu dibangun. Disinilah titik ujian itu berada, menahan diri untuk melakukan halyang diinginkan namun tak boleh dilakukan, untuk kebaikan dirimu sendiri.
kau boleh menyukainya, tapi jangan tunjukkan.
tetap jadi dirimu yang ramah,tapi tahanlah perasaanmu, jangan jadikan dirimu rendah dan mudah ditaklukan.
sinetron
sepertinya kini hidupku benar-benar sebuah sinetron. Cuplikan yang pernah kulihat atau terbayangkan dahulu memang benar terjadi, beberapa bahkan tidak pernah kusangka-sangka akan terjadi padaku.
mungkinkah kehadirannya sama seperti yang lain ? sesaat.
indah, sungguh indah ciptaan-Mu itu. Entah bagaimana menjelaskannya, karena memang benar kita harus menjaga. Sulit sekali, tapi harus.
aku kembali diingatkan,
oleh gelitik gelitik tarikan itu yang mengalir lewat obrolan sekilas
oleh pertemuan pandangan sekian detik itu
oleh munculnya kemungkinan yang tersuarakan dari hati
terbawa kembali pada rasa disudut hati
rasa yang sama seperti dengan yang lain
sama, semu
bias,hanya singgah
mungkin semua itu merangkai pemahamanku
menjadikanku melihat dari berbagai sisi
entahlah,kurasa pada titik ini aku akui dan sadar, kita tidak bisa lari darihal semacam ini,kitaakan terus diuji, dengan kondisi-kondisi yang membuat kita untuk memilih. pada akhirnya kita sadar,pilihan itulah yang membentuk kita.membangun prinsip atau menggoyahkannya untuk menguji kekokohannya.
kehadiranmu adalah ujian,yang menguatkanku apabila aku menghadapinya dengan benar.
kita adalah kunci, terbuka ata tertutupnya pintu kemaksiatan
seorang lelaki yangdatang,entah berniat untuk lama atau sebentar,tetap tidak akan bisa memasuki hati jika kitatidak membiarkan pintunya terbuka.
bagaimana mengendalikan perasaan membuncah ketika perhatian itu terasa ?
menolaknya bukanlah hal yang tepat menurutku,
karena sampai kapanpun tidak bisa membunuh perasaan sendiri.
menerimanya lebih baik, dan menyimpan rapat-rapat menjadilangkah yang tepat selanjutnya.
menjadikan dirimu istimewa, tidak tersentuh, tidak terselami.
biarkan yang benar-benar istimewa yang datang, dengan cara istimewa, bukan hanya kehadiran sesaat seperti selama ini.
tak apa, bukankah itu fitrah? mengapa harus kau tolak perasaan itu ?
bersyukurlah kau masih bisa merasakannya, mudah merasakannya,maka kembalikan semua perkara itu pada sang Pencipta, kembalikan,ceritakan semuanya,pasrahkan.karna kita hanya bisa menerimanya. mengenai sikap yang kita ambil ? menunggu, Yang Maha Cinta lah yang menentukan.
mungkinkah kehadirannya sama seperti yang lain ? sesaat.
indah, sungguh indah ciptaan-Mu itu. Entah bagaimana menjelaskannya, karena memang benar kita harus menjaga. Sulit sekali, tapi harus.
aku kembali diingatkan,
oleh gelitik gelitik tarikan itu yang mengalir lewat obrolan sekilas
oleh pertemuan pandangan sekian detik itu
oleh munculnya kemungkinan yang tersuarakan dari hati
terbawa kembali pada rasa disudut hati
rasa yang sama seperti dengan yang lain
sama, semu
bias,hanya singgah
mungkin semua itu merangkai pemahamanku
menjadikanku melihat dari berbagai sisi
entahlah,kurasa pada titik ini aku akui dan sadar, kita tidak bisa lari darihal semacam ini,kitaakan terus diuji, dengan kondisi-kondisi yang membuat kita untuk memilih. pada akhirnya kita sadar,pilihan itulah yang membentuk kita.membangun prinsip atau menggoyahkannya untuk menguji kekokohannya.
kehadiranmu adalah ujian,yang menguatkanku apabila aku menghadapinya dengan benar.
kita adalah kunci, terbuka ata tertutupnya pintu kemaksiatan
seorang lelaki yangdatang,entah berniat untuk lama atau sebentar,tetap tidak akan bisa memasuki hati jika kitatidak membiarkan pintunya terbuka.
bagaimana mengendalikan perasaan membuncah ketika perhatian itu terasa ?
menolaknya bukanlah hal yang tepat menurutku,
karena sampai kapanpun tidak bisa membunuh perasaan sendiri.
menerimanya lebih baik, dan menyimpan rapat-rapat menjadilangkah yang tepat selanjutnya.
menjadikan dirimu istimewa, tidak tersentuh, tidak terselami.
biarkan yang benar-benar istimewa yang datang, dengan cara istimewa, bukan hanya kehadiran sesaat seperti selama ini.
tak apa, bukankah itu fitrah? mengapa harus kau tolak perasaan itu ?
bersyukurlah kau masih bisa merasakannya, mudah merasakannya,maka kembalikan semua perkara itu pada sang Pencipta, kembalikan,ceritakan semuanya,pasrahkan.karna kita hanya bisa menerimanya. mengenai sikap yang kita ambil ? menunggu, Yang Maha Cinta lah yang menentukan.
Kamis, 28 Desember 2017
bibit
Aku tahu sebentar lagi bibit ini akan tumbuh, tapitenang
saja, saat ini aku sedang menyiraminya dengan kehangatan sembari membangun
gerbang besar disekelilingnya agar dia aman.
Hey aku tidak bisa, aku tidak mampu. Aku bukanlah pengatur
perasaan, maka kuputuskan untuk membiarkannya, yang bisa kulakukan hanya
menjaganya, agar semuanya tumbuh tanpa terlihat. Sulit memang, tapi itulah
tantangannya kan ?
Biarlah hanya aku dan Allah yang merawatnya.. kubiarkan dia
mengkristal dan tetap hangat dalam gerbang itu. Suatu saat kau akan menemukan
kuncinya, ataupun jikalau bukan dirimu, seseorang akan membukanya dengan gagah
dan kubiarkan semua yang tersimpan menjadi miliknya seutuhnya.
.
.
| Mt.manglayang |
Aku lelah, jujur. Menahan diri untuk tidak melihatmu. Ah,
bagaimanalah cara yang tepat untuk mencinati tanpa membakar diri sendiri ? jika
ini bomerang, biarlah aku simpan saja. Dengan kau mengacuhkan, membuatku
semakin tersiksa untuk melihat kenyataan.
Bukankah rasa sakit itu indah ? ketika hanya pada Allah lah
kau mengadukannya.
Baiklah, kupasrahkan semua ini pada Allah.. biar Allah yang
menjaga diri ini..
.
.
.
Jika kau tahu, senyuman manisku bukan hanya sekedar sapaan
semata. Entah sesuatu bercampur didalamnya. Apakah aku menghianati pertemanan ?
Bukankah aku sendiri yang mengingatkan untuk tidak merasakan
terlalu jauh tentang itu
Ahh
Sudah sudah, dia kakakku. Dan itu cukup.
Sehangat mentari
| Mt. Pangrango |
Ingatkah dulu ? tanpa sengaja kita berpapasan, seperti ada
sengatan listrik yang menjadikan hariku penuh energi, bahkan watt nya cukup
untuk menerangi pagi, siang,malam, dan esok esoknya.
Ingatkah dulu ? saat mata itu menatapku, kupikir waktu
berhenti untuk waktu yang lama, tak sadar bibir ini terkembang, dan mata kita
masih saling melihat. Haduh, apa yang sebenarnya kulihat ?
Entahlah. Semua itu terekam dan sulit hilang.
Mengingatnya membuatku diperhatikan aneh sepanjang jalan,
karena aku terus tersenyum dan tersenyum.
Hah, apa apaan aku ini, membuang waktu. Dia jelaslah belum
tentu menjadi seperti yang aku bayangkan. Dia belum fix, aku tak tahu namanya
ada disamping namaku atau tidak nantinya.
Oh ayolah, aku tidak berharap sejauh itu pula.
Aku hanya merasa hangat ketika itu. Seperti memiliki
seseorang yang menghangatkan, merasa nyaman.
Mungkin kau benar, aku memang belum benar benar
menitipkannya. Aku masih terus memikirkannya, menjadikannya objek pikiran yang
sebenarnya tidak ada lagi. Ini salah. Harusnya aku tegas menitipkan.
Bagaimanalah ? setiap hari dalam hidup ini bergulir namanya.
Bertemu dengannya mungkin kini menajd jarang, apakah itu akan menyakitkan ?
Harus kusadari bahwa suatu saat dia akan pergi, cepat atau
lambat.
Aku takkan menyadari waktu bergulir begitu cepat. Sebentar
lagi fkusnya akan berubah, dia akan segera lupa. Sebentar lagi dia menjauh,
memikirkan masa depannya.
Sakitkah ? tidak. Seharusnya tidak. Mengapa aku memikirkan
kehilangan yang sebenarnya belum
terjadi ?
Mengingat waktu yang tersisa terus saja tergerus
Aku pernah bedoa pada-Nya, untuk membalikkan saja semuanya,
jauhkan kita agar tak ada yang sakit, atau lebih tepatnya, diri ini yang sakit.
Inginku untuk menjauhi lebih dulu, daripada harus terluka atas sikapnya yang
menjauh. Aku tak bisa.
Memang semua sifat jengkelnya sungguh menikam hati, kadang
tak berdaya menghadapinya. Tapi bagaimanapun juga, mereka tetaplah kakakku,
sampai mereka meninggalkanku, membicarakan burukku, mereka tetaplah kakakku.
Aku benci jarak, dia menmbuatku tak berkutik atas keheningan yang terjadi.
Tapi kadang pula, aku ingin berterimakasih padanya.
Karna jarak, aku tak perlu menjelaskan apapun atas batas
yang ada saat ini.
Akan kutitipkan lagi, entah bagaimana nanti Allah
mengembalikan rasa ini, atau menggantinya dengan yang lebih baik.
Ya Allah aku titip dia yang sehangat mentari ketika aku
melihatnya, semoga kehangatan itu bermuaa pada sosok yang tepat.
Ya Allah kutitipkan dia yang matanya tajam bak elang
sekaligus damai mengalir layaknya sungai. Aku tahu dia nsedang berjalan, entah
matanta menangkapju atau tidak, atau aliran airnya melewati tanah gersangku,
kupikir ada sesuatu yang kau siapkan untuk ini, pada kami. Entah apa. Jika
tidak siap skrg, kutitipkan pada-Mu Ya Allah, ku tak mau mengganggunya.
Ya Allah, kutitipkan dia Ya Allah.. kutitipkan dia.. Jadikan
ia baik untuk menjadi hamba-Mu. Jadikan ia lebihdekat dengan-Mu Ya Allah,
semprnakan anugerah iman dan islam untuknya agar ia dapatmerasakan manisnya
islam dan menjadi sosok yang benar-benar dipanut.
Sudah. Tak ada lagi.
Pra
pradiksar ini bagiku adalah dasar besar,yang terlewat.
Oh,aku benar-benar belum siap menghadapi ini.sampai kapan
aku tak siap ?
Kenapa aku selalu diam? Selalu berada ppada zona aman,dimana mereka tidak akan menyerangku. Aku muak,sungguh.aku ingin
berbicara,sekalipun itu hanya aku yang menerimanya.aku terlalu banyak merasa
takut,aku terlalu takit diperhitungkan.aku terlalu takut untuk mengambil
konsekuensi jika aku akan dijauhi,jikaaku akan kehilangan banyak halmanis
dari mereka.
Kenapa ? kenapa begitu ? jadilah dirimu sendiri ci, jangan
pernah merasa harus didikte oleh oranglain. Kamu harus punya pendirian.kalau
kamu merasa benar, katakan !!jangan kau simpan sendiri, mungkin butuh suara,tapi
tetaplah pada pendirianmu.jangan merasa lemah.jangan menjudge diri sendiri
bahwa kamu terlalu perasa,atau terlalu penuntut,jjur saja memang itu ada pada
dirimu, tapi ayolah, kamu harus berkembang,terima konsekuensi, terima saran
atau penolakan orang lain. Biar saja jika pandangan mereka berubah
tentangmu.yang pentingsudah kau katakan.
Muak
aku muak, muak dengan penilaian oranglain tentangku.
Aku tak ingin berpura-pura. Biar saja orang itu tau
bagaimana aku sebenarnya, toh sampai
kapan pun kebenarannya hanya aku yang tahu. Dia hanya menerka dari satu
sisi.
Dia sepertinya selalu menatapku seakan aku manusia yang
lemah, seakan aku rapuh, seakan aku tak bisa tegas. Akan kutunjukkan
setegas apa aku.
Dia mungkin mengira aku hanya bisa merasakan, tapi tak bisa
mengatakan. Aku memang tak bisa dengan mudah menyuarakan isi hati dan mengubahnya
menjadi kata-kata yang dapat dicerna pikiran,tapi bukan berarti aku hanya diam
menuruti keinginan orang lain. Aku masih punya hati untuk menentangnya.
astagfirullah, sebaik baik penilai hanyalah Allah
Langganan:
Postingan (Atom)