Kamis, 28 Desember 2017

Sehangat mentari


Mt. Pangrango


Ingatkah dulu ? setiap mata kita bertemu, ada semacam aliran hangat menjulur, menjadikan sekitarku terasa hangat bak sinar mentari.

Ingatkah dulu ? tanpa sengaja kita berpapasan, seperti ada sengatan listrik yang menjadikan hariku penuh energi, bahkan watt nya cukup untuk menerangi pagi, siang,malam, dan esok esoknya.

Ingatkah dulu ? saat mata itu menatapku, kupikir waktu berhenti untuk waktu yang lama, tak sadar bibir ini terkembang, dan mata kita masih saling melihat. Haduh, apa yang sebenarnya kulihat ?

Entahlah. Semua itu terekam dan sulit hilang.
Mengingatnya membuatku diperhatikan aneh sepanjang jalan, karena aku terus tersenyum dan tersenyum.

Hah, apa apaan aku ini, membuang waktu. Dia jelaslah belum tentu menjadi seperti yang aku bayangkan. Dia belum fix, aku tak tahu namanya ada disamping namaku atau tidak nantinya.

Oh ayolah, aku tidak berharap sejauh itu pula.
Aku hanya merasa hangat ketika itu. Seperti memiliki seseorang yang menghangatkan, merasa nyaman.

Mungkin kau benar, aku memang belum benar benar menitipkannya. Aku masih terus memikirkannya, menjadikannya objek pikiran yang sebenarnya tidak ada lagi. Ini salah. Harusnya aku tegas menitipkan.

Bagaimanalah ? setiap hari dalam hidup ini bergulir namanya. Bertemu dengannya mungkin kini menajd jarang, apakah itu akan menyakitkan ?
Harus kusadari bahwa suatu saat dia akan pergi, cepat atau lambat.
Aku takkan menyadari waktu bergulir begitu cepat. Sebentar lagi fkusnya akan berubah, dia akan segera lupa. Sebentar lagi dia menjauh, memikirkan masa depannya.
Sakitkah ? tidak. Seharusnya tidak. Mengapa aku memikirkan kehilangan yang sebenarnya belum 
terjadi ?
Mengingat waktu yang tersisa terus saja tergerus

Aku pernah bedoa pada-Nya, untuk membalikkan saja semuanya, jauhkan kita agar tak ada yang sakit, atau lebih tepatnya, diri ini yang sakit. Inginku untuk menjauhi lebih dulu, daripada harus terluka atas sikapnya yang menjauh. Aku tak bisa.

Memang semua sifat jengkelnya sungguh menikam hati, kadang tak berdaya menghadapinya. Tapi bagaimanapun juga, mereka tetaplah kakakku, sampai mereka meninggalkanku, membicarakan burukku, mereka tetaplah kakakku.

Aku benci jarak, dia menmbuatku  tak berkutik atas keheningan yang terjadi.
Tapi kadang pula, aku ingin berterimakasih padanya.
Karna jarak, aku tak perlu menjelaskan apapun atas batas yang ada saat ini.

Akan kutitipkan lagi, entah bagaimana nanti Allah mengembalikan rasa ini, atau menggantinya dengan yang lebih baik.

Ya Allah aku titip dia yang sehangat mentari ketika aku melihatnya, semoga kehangatan itu bermuaa pada sosok yang tepat.

Ya Allah kutitipkan dia yang matanya tajam bak elang sekaligus damai mengalir layaknya sungai. Aku tahu dia nsedang berjalan, entah matanta menangkapju atau tidak, atau aliran airnya melewati tanah gersangku, kupikir ada sesuatu yang kau siapkan untuk ini, pada kami. Entah apa. Jika tidak siap skrg, kutitipkan pada-Mu Ya Allah, ku tak mau mengganggunya.

Ya Allah, kutitipkan dia Ya Allah.. kutitipkan dia.. Jadikan ia baik untuk menjadi hamba-Mu. Jadikan ia lebihdekat dengan-Mu Ya Allah, semprnakan anugerah iman dan islam untuknya agar ia dapatmerasakan manisnya islam dan menjadi sosok yang benar-benar dipanut.

Sudah. Tak ada lagi.

Pra



pradiksar ini bagiku adalah dasar besar,yang terlewat.

Oh,aku benar-benar belum siap menghadapi ini.sampai kapan aku tak siap ?

Kenapa aku selalu diam? Selalu berada ppada zona aman,dimana mereka tidak akan menyerangku. Aku muak,sungguh.aku ingin berbicara,sekalipun itu hanya aku yang menerimanya.aku terlalu banyak merasa takut,aku terlalu takit diperhitungkan.aku terlalu takut untuk mengambil konsekuensi jika aku akan dijauhi,jikaaku akan kehilangan banyak halmanis dari mereka. 

Kenapa ? kenapa begitu ? jadilah dirimu sendiri ci, jangan pernah merasa harus didikte oleh oranglain. Kamu harus punya pendirian.kalau kamu merasa benar, katakan !!jangan kau simpan sendiri, mungkin butuh suara,tapi tetaplah pada pendirianmu.jangan merasa lemah.jangan menjudge diri sendiri bahwa kamu terlalu perasa,atau terlalu penuntut,jjur saja memang itu ada pada dirimu, tapi ayolah, kamu harus berkembang,terima konsekuensi, terima saran atau penolakan orang lain. Biar saja jika pandangan mereka berubah tentangmu.yang pentingsudah kau katakan.

Muak



aku muak, muak dengan penilaian oranglain tentangku.
Aku tak ingin berpura-pura. Biar saja orang itu tau bagaimana aku sebenarnya, toh sampai  kapan pun kebenarannya hanya aku yang tahu. Dia hanya menerka dari satu sisi.

Dia sepertinya selalu menatapku seakan aku manusia yang lemah, seakan aku rapuh, seakan aku tak bisa tegas. Akan kutunjukkan setegas apa aku. 

Dia mungkin mengira aku hanya bisa merasakan, tapi tak bisa mengatakan. Aku memang tak bisa dengan mudah menyuarakan isi hati dan mengubahnya menjadi kata-kata yang dapat dicerna pikiran,tapi bukan berarti aku hanya diam menuruti keinginan orang lain. Aku masih punya hati untuk menentangnya.

astagfirullah, sebaik baik penilai hanyalah Allah

Alone



DanauTelaga Biru, Mt.Pangrango


Disuatu waktu, kadang orang perlu teman bicara. Tentu tak semua orang bisa merespon seperti yg diinginkan, yang terpenting hanyalah mau mendengar untuk mengerti,bukan untuk merespon. Banyak orang tidak mengerti, atau tidak mau mengerti. Berpikir itu melelahkan, apalagi sendiri.

Bicara pada alam, alam akan menjawabmu dengan caranya sendiri. Pertanyaanmu,keresahanmu,terjawab oleh semilir angin, terlapangkan dengan hamparan seluas pandangan, teryakinkan oleh semua yang kau lihat diatas sana, bahwa kau bisa menjalaninya,bahwa semesta mendukungmu,dan percaya padamu. Itu sudah lebih dari cukup bukan ? lebih dari sekedar penilaian manusia.

Minggu, 06 Agustus 2017

Space

jarak .


aku tersentuh atas jarak yang kau buat diantara kita.
aku mengahargai dan menyadari dengan yakin bahwa ini benar.
diammu mengajariku banyak hal dari sekedar kata-kata panjang dalam percakapan.
diammu adalah emas.

"terkadang diam lebih baik, tapi terkadang kita perlu berbicara agar yang lain diam"

begitu katamu,
sejujurnya semua yang kau katakan benar.
hanya aku saja yang terlambat menyadarinya.

kau katakan pada kami diawal, tentang kesungguhan
sungguh2 lah, jangan setengah2 disini
tapi semakin hari semakin kulihat
kau membagi hati
dan aku bertanya seperti itukah kesungguhan yang kau maksud ?
seakan kau pergi dengan yang lain

kau pun berkata, tidak bisa mengerti perasaan oranglain
jika tidak merasakannya sendiri
dan aku hanya anggap itu angin lalu
jelas kau sedang tertekan, mungkin hanya itu yang bisa kau katakan

dan lagi-lagi aku terlambat menyadari
bahwa itupun benar,
perasaan seutuhnya hanya kita dan Maha pencipta lah yang tahu
sebaik dan sepeka apapun orang lain, dia tidak akan benar-benar paham

kau pun benar,
benar-benar membagi hatimu
yang kusadari mungkin sebagian besar ada disana
tapi kuyakin ada serpihan hatimu disini

ingin ku dekat seperti yang lain padamu
dan berbisik meminta maaf atas segala kekeliruanku
lalu kuceritakan bagaimana dirimu dimataku
dan kudengar pula hal itu darimu

tapi untuk apalah
tidak akan berguna
justru akan menjadi pemberat dosa
sungguh aku tak bersedia melakukannya

biarlah nanti Allah yang mempertemukan
jika memang harus bertemu,akan ada jalannya
jika tidak, pasti ada  rencana terbaik setelahnya
percaya sajalah

 seperti katamu lagi,

"tidak perlu mencari, cukup menjadi. Maka akan datang dengan sendirinya menghampiri" 


yap. setuju. selamat berbenah diri. semoga bertemu bidadar impian diujung penantian.


Ternyata



Ternyata Allah bukakan mata hatiku dengan kejadian ini, bahwa yang terpenting adalah jangan berharap pada manusia.
Aku tidak menyangka akan sesakit ini rasanya menyadari bahwa orang yang kau anggap bak malaikat dengan mudahnya menggores luka dihatimu.
Ku kira dialah yang paling mengerti tentang perasaan, tapi nyatanya justru dia buta.
Dia tidak melihat atau mungkin tidak merasa bahwa perkataannya akan menyakiti,
bahwa lisannya tak menjaga hati orang lain.
Bukan, bukan itu gunanya perasaan.
Menjadi berperasa bukan berarti menjadi lemah, jangan kambing hitamkan perasaan.
Sungguh,perasaan lebih menyiksa daripada fisik.
Aku memang lemah dalam fisik, mungkin pula lemah dalam berperasa.
Seakan semua terlalu keras bagiku, dan kenyataannya menghujam hingga tampiasnya benar-benar terasa.

Kau tahu ?
Aku sudah merasa setengah jalan menyebrangi samudra dalam hatimu
Berenang bersama riak air hingga tingginya gelombang
Namun kini kusadari bahwa aku hanya sampai pada pantai
Dan lelahku kini baru mengantarku pada teluk menukik diantara pantai dan lautan biru
aku baru sampai pada birumu yang sebenarnya
birumu bukan biru yang kumaksud
birumu gelap dan menakutkan
terlalu pekat,tidak tergradasi
biruku damai,beriak namun menenangkan
biruku kulihat pada laut yang lain
yang kukira laut itu hanya sebuah danau
ternyata kusalah tentangnya
pun tentangmu

kuingin coba susuri lagi laut lain
berharap temukan lautku yang dulu kulihat padamu
tapi kusadari
bahwa ini bukan cara yang tepat
sampai kapanpun tak akan cepat sampai
aku tidak ingin menjadi perenang handal
dalam lautan dosa pada tiap gelombangnya

aku tahu aku perlu kapal
yang dapat membawaku pada pemberhentian
harusnya kubuat dulu kapal itu
bukan langsung berenang tanpa bekal apapun

aku tahu kini, terimakasih 

kau, si sepeda tua berkacamata
kini hanya bagian dari pembelajaranku saja.